• Styro Patrol (Bahaya Styrofoam)

    Image result for styro patrol TGGI 


    The biggest environmental health concern associated with polystyrene is the danger associated with Styrene, the basic building block of polystyrene. Styrene is used extensively in the manufacture of plastics, rubber, and resins.

    ****

    JAKARTA, (TGGI). -- Styrofoam adalah topik utama yang dugusung oleh komunitas muda Indonesia, Teens Go Green Indonesia (TGGI) dengan slogan "Styrofoam? No Thanks!". Kegiatan ini terdiri dari edukasi, pendataan lokasi penumpukan styrofoam (mapping) dari hulu hingga hilir, kampanye anti styrofoam, dan beach clean up.

    Beberapa alasan mengapa TGGI menggemakan kampanye anti styrofoam, karena banyaknya dampak negatif dari styrofoam bagi kesehatan dan alam. Pemerintah Indonesia harus ikut prihatin akan hal ini dengan menginovasi kemasan makanan dan minuman selain styrofoam serta melarang penjualan makanan dan minuman yang menggunakan wadah styrofoam.

    Tahukah kamu bahwa di Indonesia, penggunaan styrofoam sebagai wadah makanan dan minuman justru semakin merajalela. Dimanapun, mudah sekali menemukan bahan polystyrene ini. Tidak hanya pedagang-pedagang kaki lima, tetapi juga restoran-restoran di Indonesia. Seolah, tidak ada yang peduli dengan bahaya yang sangat mengancam dibalik kemasan praktis yang satu ini.

    Styrofoam berbahaya karena terbuat dari styrene dan benzena yang memicu timbulnya banyak penyakit, khususnya kanker! Benzana dapat menimbulkan masalah pada kelenjar tyroid, mengganggu kinerja sistem syaraf sehingga menyebabkan kelelahan, mempercepat detak jantung, sulit tidur, badan menjadi gemetaran, dan menjadi mudah gelisah. Selain itu, dapat pula mengontaminasi Air Susu Ibu (ASI). Di beberapa kasus, benzena bahkan bisa mengakibatkan hilang kesadaran dan kematian (mfajri.net).

    Penelitian membuktikan, bahwa semakin panas suatu makanan, semakin cepat pula migrasi bahan kimia styrofoam ke dalam makanan. Nah, loh? Nyatanya, makanan dibungkus dalam kondisi baru matang yang artinya makanan tersebut masih dalam suhu panas. Faktanya, organisasi kesehatan dunia (WHO) sudah melarang penggunaan styrofoam di seluruh dunia. Tetapi, masih saja terdapat oknum yakni penjual dan pengguna yang masih masif akan styrofoam.

    Mau tahu bahaya lainnya?
    Pernah mendengar Water vs Styrofoam?

    Styrofoam memiliki kandungan mikroplastik yang mana jika styrofoam dibuang begitu saja ke perairan seperti sungai, danau, ataupun laut, styrofoam akan pecah menjadi butiran tidak kasat mata yang dinamakan mikroplastik dan akan mencemari air. Hal tersebut menyebabkan kematian satwa air dan pencemaran air. Lantas, bagaimana jika ikan-ikan tersebut tetap dijual di pasaran?! Atau, bagaimana jika kita menkonsumsi air yang tercemar tersebut?!

    Next!

    Styrofoam dikatakan pula sebagai sampah abadi. Jika sampah plastik membutuhkan waktu hingga 500-an tahun untuk dapat terurai di dalam tanah, styrofoam justru tidak pernah dapat terurai. Saat ini telah ditemukan styrofoam yang disebut Oxodegradable Polystyrene, yang katanya lebih ramah lingkungan. Styrofoam jenis ini telah diberi tambahan bahan oxium sehingga dapat terurai meskipun membutuhkan waktu hingga 4 tahun (almendah.org). Benarkah?

    Styrofoam sebenarnya dapat didaur ulang, namun proses pendaurulangan styrofoam masih tetap menghasilkan 57 senyawa yang masih berbahaya bagi lingkungan. Bahkan, setelah di daur ulang saja masih terdapat banyak senyawa berbahaya!

    Dampak negatif lainnya, yakni styrofam mengandung HFCs yang dapat merusak lapisan ozon. Itu tandanya kalian telah merusak bumi dengan menggunakan styrofoam!

    Masih belum mau berhenti menjual dan menggunakan styrofoam?!

    "Kalian lahir, tinggal, dan hidup di Bumi. Tetapi, kalian merusak bumi dan segala keindahannya. Sadar maupun tidak sadar. Disengaja maupun tanpa sengaja. Sebenarnya, siapa kalian? Pantas kah kalian masih menjejaki kaki di bumi ini?"
    (AMP)

    Sumber video: Liputan Indonesia Morning Show NET (2016)
    Beberapa waktu lalu pernah diberitakan riset tentang rekayasa genetika terhadap cacing yang mampu pemakan plastik, dan juga riset tentang sampah kulit jeruk yang dapat mengurai secara alami senyawa styrofoam. Sayangnya semua inovasi tersebut terasa bagai angin lalu. Sampai sekarang belum ada penanganan khusus terhadap sampah styrofoam ini, dan pada akhirnya hanya metode sanitary landfill yang dipakai negara kita.

    Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kartikav/styrofoam-wadah-murah-dengan-segudang-bahaya_582e7ffc7eafbd5226ec64f6
    Beberapa waktu lalu pernah diberitakan riset tentang rekayasa genetika terhadap cacing yang mampu pemakan plastik, dan juga riset tentang sampah kulit jeruk yang dapat mengurai secara alami senyawa styrofoam. Sayangnya semua inovasi tersebut terasa bagai angin lalu. Sampai sekarang belum ada penanganan khusus terhadap sampah styrofoam ini, dan pada akhirnya hanya metode sanitary landfill yang dipakai negara kita.

    Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kartikav/styrofoam-wadah-murah-dengan-segudang-bahaya_582e7ffc7eafbd5226ec64f6
    Beberapa waktu lalu pernah diberitakan riset tentang rekayasa genetika terhadap cacing yang mampu pemakan plastik, dan juga riset tentang sampah kulit jeruk yang dapat mengurai secara alami senyawa styrofoam. Sayangnya semua inovasi tersebut terasa bagai angin lalu. Sampai sekarang belum ada penanganan khusus terhadap sampah styrofoam ini, dan pada akhirnya hanya metode sanitary landfill yang dipakai negara kita.

    Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/kartikav/styrofoam-wadah-murah-dengan-segudang-bahaya_582e7ffc7eafbd5226ec64f6
  • 0 comments:

    Post a Comment