Belajar Menjaga Laut Jakarta di Jejak Seribu Youth Camp 2019

 

 
Manusia diciptakan untuk hidup berdampingan dengan alam. Alam memberikan apa yang manusia butuhkan maka manusia wajib tuk berikan perhatian pada alam. Di era saat ini yang terjadi di bumi pertiwi adalah sebuah kenyataan pahit bahwa alam sedang sakit. Air, tanah, dan udara tercemar di seluruh penjuru negeri ini termasuk Pulau Tidung, kepulaauan Seribu.
 
Pada 12 -14 Juli 2019, Yayasan Jejak Seribu mengajak 30 pemuda asal Jabodetabek untuk melihat langsung keadaan lingkungan di Pulau Tidung. Dengan nama “Jejak Seribu Yauth Camp 2019” (JSYC), Yayasan Jejak Seribu memberikan pembekalan materi dan aksi tentang cinta lingkungan. Program tersebut bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada pemuda-pemuda untuk sama-sama menjaga alam sekitar kita karena tanpa alam yang terjaga kestabilan ekosistem akan terganggu. “Kita ingin agar pemuda Jakarta lebih peduli lingkungan” Kata Bang Andi Hakim, founder dan President Yayasan Jejak Seribu.

Sebanyak 30 peserta yang tergabung dalam Jejak Seribu Youth Camp 2019 adalah pemuda-pemuda pilihan yang terseleksi dari ratusan pendaftar dengan latar belakang yang beragam. Ada yang dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga pegiat komunitas. Aku terpilih mewakil komunitas Teens Go Green. Ada dua orang dari Teens Go Green yang mengikuti JSYC ini.
 
 

Peserta JSYC berangkat pada hari Jumat 19 Juli 2019 dari pelabuhan Kali Adem, Jakarta Utara menggunakan Speedboat milik Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Setibanya di Pulau Tidung, para peserta disambut oleh Lurah Setempat.
 
Banyak kegiatan dilakukan oleh para peserta yang secara garis besar adalah materi, diskusi, dan aksi nyata. Materi pertama diisi oleh Kak Ira Latief, founder creative_Traverel, dan pemulis 17 buku. Beliau adalah sosok perempuan hebat yang mampu membuka mata masyarakat bahwa di Jakarta adalah tempat wisata yang nggak kalah dengan daerah laiun. Beliau ingin agar masyarakat Indonesia khususnya Jakarta lebih mengenal tentang daerah mereka sendiri agar potensi yang ada bisa dikembangkan semaksimal mungkin. Pada sesi materi tersebut, Yayasan Jejak Seribu turut mengundang para pelajar SMK 61 Jakarta.

Sesi materi kedua diisi oleh seorang pegiat social bernama Bang Angger Sutawijaya. Bang Angger adalah Direktur Eksekutive dari Yayasan Turun Tangan sekaligus Founder dan Kepala Sekolah SDI Ruhul Alamin. Beliau aktif di banyak kegiatan social dan pada sesi materi itu, Bang Angger menceritakan pengalaman-pengalamannya selama berkegiatan social. “Anak muda itu harus berani ambil langkah jangan hanya diam melihat sebuah masalah di depan mata” kata Bang Angger.

Pemateri ketiga ada Kak Ranitya Nurlita. Kak Lita ini aktifis kegiatan kepemudaan baik nasional maupun internasional. Kak Lita menceritkan pengalamannya keliling 15 negara sejak masih dibangku kuliah. “ Pemuda harus berani menunjukan jati dirinya dan jangan takut tuk mengambil resiko” kata Kak Lita.

Pemateri keempat ada Bang Schode Ilham. Dia traveler yang bisa memanfaat media social untuk membagikan informasi. Bang Schod ini mengajarkan bahwa kita sebagai aktifis lingkungan dapat menggunanakan media social untuk mengajak teman-teman se-nusantara untuk ikut kampanya cinta lingkungan.

Di akhir materi peserta JSYC kedatangan tamu special. Dia adalah Miss Scuba Indonesia 2019, Ana Valiza Atmadja. Kak Ana bercerita tentang keadaan laut Indonesia terkini. Kata dia, “Indonesia perlu segerah merawat laut agar anak cucu kita tetap bisa melihat keindahan biota dasar laut.
-----

Setelah medapat materi, peserta ditantang untuk melihat masalah disekitar dan mencoba untuk memberikan solusi. Dengan pondasi teori dan keadaan nyata pesera JSYC menghasilkan banyak langkah konkret yang bisa dilakukan untuk membantu melestarikan lingkungan. Prolasih salah satunya. Prolasih merupakan singkatan dari Program Laut Bersih yang bertujuan membersihakan bibir pantai di Pulau Tidung. Ada juga Ecotrip yang mengedepankan konsep liburan ramah lingkungan di sekitaran Jakarta, dan masih banyak lagi ide-ide segar yang dihasilkan selama proses didkusi berlangsung.

Ide-ide yang dihasilkan selanjutnya di tuliskan dalam infografis dan mindmap lalu di presentasikan. Kemudia konsep yang sudah matang dibaut proposal untuk diajukan ke dinas pemuda dan olah raga DKI Jakarta untuk ditindak lajuti.

Selama kegiatan berlangsung peserta menginap di homestay pada malam pertama dan mendirikan kemah di malam kedua. Di malam kedua peserta menyalakan api unggun dan menampilkan pentas seni. Selama api unggun berlangsung music dan nyanyian tak pernah berhenti. Diakhir sesi pentas seni peserta JSCY menarikan tarian khas abang none Jakarta

Dia hari terakhir peserta melakuan aksi nyata membersihkan bibir pantai. Kegiatan itu dilakukan di Pulau Tidung kecil. Pantai Tidung kecil dibersihkan dari sampah-sampah non-organik yang sulit terurai seperti sampah plastic, sterofoam, dan sampai popok sekali pakai. Setelah aksi bersih pantai peserta jejak seribu menanam pohon mangrove dan juga transplantasi terumbu karang.
 
 

Aku yang mengikuti rangkaian kegiatan Jejak Seribu Youth Camp 2019 dari awal kini merasakan perubahan positif pasca selesai kegiatan. Kini aku merasa lebih memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat alam sekitar kita sebagai wujud kepedlian terhadap diri sendiri, orang lain, dan generasi mendatang.

Alam yang sudah memberikan segala kebutuhan kita seperti air, angina, dan makanan juga memiliki kebutuhan. Alam membutuhkan uluran tangan kita untuk senantiasa merawatnya agar tetap terjadi keseimbangan. Oleh karena itu marilah kita lebih giat lagi menjaga alam ini agar anak cucu kita dapat merasan indahnya alam.
(@bamsutris/TGG)

---

Penulis : Wahyu Nugroho Ramadhan, anggota Teens Go Green 2019

No comments:

Post a Comment