Mengetahi Pendapat Masyarakat tentang Styrofoam dengan metode Wawancara


Mulai dari bulan oktober 2017 Tim StyroPatrol Teens go Green Indonesia secara rutin sebulan 2 kali mengadakan survey yang tepatnya diadakan di Ancol. Kenapa memilih di ancol? Karena ancol merupakan salah satu tempat yang sudah berlebel “Anti Styrofoam”. Kalau tempatnya sudah mendukung gerakan anti syrofoam, bagaimana dengan pengunjungnya? Hal ini lah yang ingin dicari tau. Apakah tempat yang mendukung Anti Styrofoam sudah cukup untuk mengurangi penggunaan Styrofoam atau tidak demikian?


Pada kegiatan ini hal yang Tim Styropatrol lakukan adalah memberikan edukasi dan membagikan kantong sampah ke Bis Bis yang masuk pada pintu gerbang. Hal ini bertujuan agar edukasi dapat secara maksimal dilakukan. Karena sebagian besar bis bis tersebut berisi anak anak. Sangat Bijak bila edukasi tentang lingkungan juga diberikan pada anak. Karena hal ini dapat membuat generasi muda bangsa dapat mulai peduli lingkungan sejak dini.


Kegiatan selanjutnya yaitu mewawancarai beberapa pengunjung dan memberikan edukai tentang bahaya Styrofoam. Total responden pada wawancara adalah 150 orang. Terdiri dari wanita dan pria. Serta terdiri dari golongan anak anak, Remaja serta dewasa. Responden berasal dari Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Tanggerang selatan, bekasi dan Luar Jabodetabek. Bagaimanakah hasilnya?

Berikut Merupakan hasil dari Wawancara :


Gambar diatas merupakan sebuah grafik yang membandingkan banyaknya pemakaian styrofoam pada suatu kota. Dalam grafik tersebut terdapat beberapa kota yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Tanggerang selatan, Bekasi, dan Luar Jabodetabek. Pada hasil Kuisioner dapat dilihat persentase jumlah responden yang terdapat pada masing masing kota. Dari gambar diatas dapat diketahui bahwa kota Jakarta didominasi oleh jarangnya penggunaan styrofoam, namun jumlah seringnya pemakaian sedikit lebih tinggi dibanding dengan orang yang jarang memakai styrofoam sedangkan penggunaan sangat sering cukup sedikit dibanding frekuensi penggunaan lainnya di Jakarta. Di Kota bogor jumlah jarangnya pemakaian styrofoam mendominasi kota tersebut sedangkan frekuensi sering, sangat sering, sangat jarang tidak terlihat di kurva. Pada Kota depok frekuensi penggunaan styrofoam didominasi oleh jarangnya pemakaian meskipun frekuensi seringnya pemakaian cukup tinggi di banding sangat sering dan sangat jarang pemakaian. Pada kota Tanggerang penggunaan styrofoam didominasi oleh jarangnya pemakaian sedangkan sangat jarangnya penggunaan styrofoam di kota tersebut cukup tinggi melebihi sering dan sangat seringnya pemakaian styrofoam. Pada kota Tanggerang Selatan penggunaan styrofoam didominasi oleh jarangnya pemakaian sedangkan Sangat jarang, sering dan Sangat sering berada di titik terendah kota tersebut. Pada Kota Bekasi sangat jarangnya penggunaan styrofoam masih berada dibawah nilai jarangnya penggunaan namun lebih tinggi di banding sering dan sangat seringnya pemakaian. Pada kota-kota luar Jabodetabek jarangnya penggunaan styrofoam cukup mendominasi lalu disusul sering dan sangat seringnya pemakaian, sedangkan sangat jarangnya pemakaian berada di angka terendah.



Grafik diatas merupakan grafik yang menunjukan perbandingan tentang usia dan seberapa sering masyarakat khususnya pengunjung ODS (Ocean Dream Samudra) menggunakan styrofoam. Grafik diatas menunjukan Jarangnya penggunaan styrofoam mendominasi baik bagi anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Grafik ini didapat dari survey ke 150 pengunjung ODS Ancol.



Grafik diatas merupakan grafik perbandingan tentang bahaya styrofoam terkait usia penggunanya. Dapat dilihat dari grafik diatas pengetahuan tentang bahaya styrofoam didominasi oleh orang orang yang mengetahui tentang bahaya styrofoam namun masih ada beberapa orang baik dari kalangan anak-anak, remaja dan orang dewasa yang tidak mengetahui bahaya styrofoam.






No comments:

Post a Comment