Youth Eco Leader Bandung Ajak Pelajar Al Ma’arif Kurangi Sisa Pangan


Melalui aksi “Mubazir Bukan Gayaku—Tong Kalap, Tong Nyesa!”, Youth Eco Leader Bandung mengajak pelajar mengukur sisa makanan, mendengarkan suara siswa, dan membangun kebiasaan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

BANDUNG — Berawal dari pertanyaan sederhana tentang ke mana perginya makanan yang tidak habis, Youth Eco Leader (YEL) Bandung mengajak pelajar SMP, SMA, dan SMK Al Ma’arif Bandung melihat langsung persoalan sisa pangan di lingkungan sekolah.

Melalui aksi “Mubazir Bukan Gayaku—Tong Kalap, Tong Nyesa!”, Youth Eco Leaders Bandung bersama WRI Indonesia menjalankan rangkaian kegiatan pada 27 Agustus–25 September 2026. Para pelajar tidak hanya mendapatkan edukasi, tetapi juga terlibat dalam pengukuran sisa pangan, pengumpulan pendapat siswa, serta penguatan kebiasaan pemilahan sampah.

Bagi YEL Bandung, persoalan sisa pangan perlu dilihat lebih dekat. Makanan yang tersisa di dalam ompreng bukan hanya persoalan sampah, tetapi juga dapat menjadi gambaran tentang kebiasaan konsumsi, kesesuaian porsi, penerimaan terhadap menu, hingga fasilitas pengelolaan sampah di sekolah.

YEL Bandung Mengubah Sisa Makanan Menjadi Data

Langkah pertama yang dilakukan YEL Bandung adalah mengukur sisa pangan yang dihasilkan siswa. Pada dua hari pengukuran awal, tercatat 8,975 kilogram sisa pangan.

Pada hari pertama, sisa pangan mencapai 3,450 kilogram dengan nasi sebagai salah satu komponen terbesar, yakni 1,345 kilogram. Sementara pada hari kedua, tercatat 5,525 kilogram dengan komponen antara lain kulit pisang 1,276 kilogram, kelompok sayuran 1,270 kilogram, dan roti 0,915 kilogram.

Data tersebut kemudian menjadi bahan untuk mengajak siswa memahami bahwa sisa yang terlihat sedikit dari satu orang dapat menjadi jumlah yang besar ketika dikumpulkan bersama.

YEL Bandung juga mengumpulkan tanggapan dari 76 siswa untuk memahami mengapa makanan tidak dihabiskan. Sebanyak 30,3 persen responden menyebut rasa makanan kurang cocok, 28,9 persen merasa sudah kenyang, 26,3 persen tidak menyukai jenis makanan tertentu atau menginginkan variasi menu, dan 14,5 persen menilai porsinya terlalu banyak.

Temuan ini menjadi bagian penting dari pendekatan YEL: mengurangi sisa pangan tidak hanya dengan mengubah perilaku siswa, tetapi juga dengan mendengarkan pengalaman mereka.



Dari Edukasi ke Aksi

Bagi YEL Bandung, edukasi lingkungan akan lebih bermakna ketika anak muda diberi kesempatan untuk terlibat langsung dalam menemukan persoalan di sekitarnya.

Karena itu, siswa tidak ditempatkan hanya sebagai penerima pesan kampanye. Mereka diajak melihat sisa makanan, memahami datanya, menyampaikan alasan makanan tidak dihabiskan, dan mengenali apa yang dapat diperbaiki.

Abizar, siswa kelas 7 SMP Al Ma’arif Bandung, mengaku menjadi lebih memperhatikan makanan setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Setelah melihat sisa makanan ditimbang, saya sadar kalau sisa sedikit dari setiap orang bisa terkumpul banyak. Saya ingin lebih menghargai makanan, makan sesuai kebutuhan, dan memilah sampah pada tempatnya.”

Pengalaman tersebut menunjukkan bagaimana isu lingkungan dapat menjadi pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.



YEL Menemukan Tantangan di Balik Kebiasaan Siswa

Selain sisa pangan, YEL Bandung juga menemukan tantangan dalam fasilitas pemilahan sampah. Sebanyak 94,7 persen responden menyatakan tidak tersedia tempat sampah terpilah, sementara 42,1 persen menyatakan meninggalkan makanan yang tidak habis di dalam ompreng.

Di sisi lain, 77,6 persen siswa mengetahui bahwa sisa makanan dalam program Makan Bergizi Gratis termasuk sampah makanan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengetahuan saja belum cukup. Agar siswa dapat menerapkan kebiasaan yang lebih baik, diperlukan fasilitas yang mendukung, alur pengelolaan yang jelas, serta ruang bagi siswa untuk menyampaikan masukan.



Mengukur Kembali Perubahan

Setelah rangkaian aksi dilakukan, YEL Bandung kembali melakukan pengukuran. Pada dua hari pengukuran akhir, sisa pangan tercatat 3,019 kilogram, dibandingkan 8,975 kilogram pada dua hari pengukuran awal.

Secara deskriptif, jumlah yang tercatat lebih rendah sebesar 5,956 kilogram atau sekitar 66,36 persen dibandingkan total pengukuran awal. Namun, YEL Bandung menilai angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena kelompok yang diamati dan menu pada kedua tahap pengukuran berbeda.

Bagi YEL, hasil tersebut menjadi dasar untuk mendorong pengukuran yang lebih konsisten ke depan. Jumlah penerima makanan, jumlah porsi, menu, dan kelompok yang diamati perlu dicatat agar perubahan dapat dibandingkan secara lebih akurat.



Aksi Anak Muda untuk Perubahan di Sekolah

“Melalui ‘Mubazir Bukan Gayaku—Tong Kalap, Tong Nyesa!’, kami mengajak siswa dan pengelola sekolah melihat sisa pangan sebagai tanggung jawab bersama,” kata Riki Jali, Koordinator Tim Youth Eco Leader Bandung.

Menurutnya, data yang dihasilkan dari kegiatan tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi menu, menyesuaikan porsi, dan memperbaiki fasilitas pemilahan. Ia berharap aksi tersebut tidak berhenti sebagai kampanye, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan bersama oleh siswa, sekolah, yayasan, dan penyedia makanan.

Sebagai youth hub TGGI di Bandung Raya, Youth Eco Leader Bandung terus mendorong anak muda untuk menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan lingkungan di sekitarnya. Aksi “Mubazir Bukan Gayaku” menjadi salah satu contoh bagaimana isu lingkungan dapat dimulai dari ruang yang paling dekat dengan anak muda: sekolah, makanan, dan kebiasaan sehari-hari.

Sebab bagi YEL Bandung, perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Kadang, perubahan dimulai dari satu ompreng, satu data, dan satu kebiasaan untuk mengambil makanan secukupnya.

Mubazir Bukan Gayaku. Tong Kalap, Tong Nyesa!

Hargai makanannya. Dengarkan suaranya. Kurangi sisanya.

Sumber data: Rekap pengukuran sisa pangan dan hasil kuesioner kegiatan Youth Eco Leader Bandung di Yayasan Al Ma’arif, Agustus–September 2026.

Posting Komentar

0 Komentar